Sunday, June 8, 2008

Subhanallah..

Di bawah ini adalah kisah seorang hamba Allah yang pernah berjumpa dengan pengasas HPA.


***

Yang kemudian akan saya ceritakan ini bukan lawakan, melainkan kenyataan yang saya alami dan lihat dengan mata kepala sendiri. Sebuah pengalaman nyata.

Pertengahan Januari 2005 yang lalu, selepas tsunami melanda Aceh dan sekitarnya, saya berkesempatan mengunjungi Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad, pemilik perusahaan HPA Sdn. Bhn. di Negara Bagian Perlis, Malaysia. Kebetulan istri saya sedang belajar ilmu pengobatan herba di Kolej Perubatan Jawi (KPJ) di bawah pembinaan beliau selama satu setengah bulan.

Ada dua hal yang sangat berkesan di hati saya ketika itu. Pertama, ketika pertama kali datang di areal KPJ, saya disambut Tuan Haji Ismail dan dipeluknya bagai saudara dekat yang datang dari perjalanan jauh – dan memang sangat jauh mengingat Perlis terletak di perbatasan Malaysia dengan Thailand Selatan. Dan yang kedua, dipersilakannya saya bersama istri dan anak saya yang masih menyusu untuk menginap di rumah beliau, di bilangan Jejawi, sekitar 10 km dari Kangar, ibukota Perlis.

“Anggap rumah sendiri, Pak Bahtiar,” kata tuan rumah yang ramah ini.

Rumah itu berbentuk sebagaimana rumah di Jawa. Terbuat dari pasangan batu bata dan semen, dengan atap dari seng atau genteng. Langit-langitnya ditutup asbes dan lantainya dipasangi keramik apa adanya. Di sebelahnya ada rumah panggung dari kayu, bentuk khas rumah penduduk di sana yang kiranya tetap dipertahankan. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu (Jawa: gedheg) yang berlubang-lubang sehingga ketika tidur bisa mengintip bintang di langit. Di sebelahnya lagi sebuah surau sederhana, tempat keluarga Tuan Haji dan masyarakat sekitarnya salat berjamaah.

Meskipun ada pagar berbatasan dengan jalan, tetapi jalan masuk ke lingkungan rumah ini tidak berpintu. Juga antara rumah satu dengan tetangga lainnya yang berdekatan tidak ada pagar pembatas.

Kami ditempatkan beliau di rumah batu-bata; di sebuah kamar, yang biasa dipakai putra-putri beliau jika sedang di rumah – pada saat itu, semua anaknya (kecuali yang baru lahir) sedang berada di pondok pesantren tahfidhul qur’an!

Di lingkungan ini berkumpul satu komunitas masyarakat – semacam dusun di Indonesia – yang terdiri atas beberapa puluh rumah. Dusun ini dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas dan terbuka dengan latar belakang bukit yang menjulang di kejauhan. Sungguh pemandangan pedesaan yang modern tetapi asri. Mengapa saya bilang modern, karena fasilitas jalan yang tersedia sangat lebar, mulus, tertib, lengkap dengan rambu-rambu yang bagus dan terawat. Juga terdapat banyak pabrik beraneka rupa yang memproduksi berbagai jenis barang komoditi. Singkat kata, Jejawi bukan serupa pedesaan di Jawa, melainkan sungguh-sungguh sebuah kota yang ramai.

Ada satu hal yang paling berkesan tinggal di rumah Tuan Haji Ismail ini. Rumah beliau yang kami tempati tersebut tidak pernah dikunci! Ya, tidak pernah dikunci! Di malam hari sekalipun. Bahkan mobil beliau -- dua atau tiga, saya tak tahu pasti jumlahnya -- hanya diparkir di samping rumah, tanpa pagar, dengan kunci yang hanya diletakkan di teras. Setiap orang dengan sangat mudah menemukannya jika mau.

Jika kami masuk rumah, tinggal mencopot sepatu di luar pintu, membuka pintu sebagaimana adanya dan menutupnya sedemikian rupa. Itu saja. Di dalam rumah pun demikian juga. Kami dengan mudahnya bisa masuk ke ruang tamu beliau, perpustakaan, ruang makan, dapur.

Selama lima hari tinggal di rumah itu – kebetulan beliau juga sedang ke Aceh, membantu korban tsunami – tak ada pertanyaan yang menarik untuk dicari jawabnya kecuali mengapa rumah ini tidak pernah dikunci. Apakah pemilik rumah ini tak takut kehilangan benda berharga di dalamnya? Apakah Tuan Haji tidak pernah kemalingan?

Jawabnya ternyata tidak jauh dari lawakan di atas. Ya, sepiring nasi. Maksud saya, Tuan Haji terkenal sebagai orang yang dermawan, suka memberi pada tetangganya dan orang lain. Ia sangat memperhatikan zakat dan infaqnya. Ia pun sangat sederhana. Bahwa baju yang dimilikinya hanya cukup dipakai bergantian selama seminggu alias tujuh hari barangkali sudah cukup menggambarkan betapa ia hidup bersahaja dan tidak bermewahan. Padahal beliau adalah pemilik perusahaan HPA yang produknya sudah merambah tidak hanya Malaysia, tetapi juga seluruh pelosok Indonesia, Thailand, bahkan Timur Tengah. Ia seorang konglomerat muslim kalau boleh saya bilang.

Bagaimana jika harta di rumah Tuan Haji dibawa maling? Seseorang pernah bertanya demikian. “Itu saya anggap Allah sedang membersihkan harta saya yang mungkin kotor,” jawab herbalis itu. Namun, apakah Tuan Haji pernah kemalingan? “Pernah juga,“ jawabnya kalem. “Tetapi sekalinya pencuri itu mengambil barang-barang di rumah saya, tak berapa lama kemudian ianya kembali ke rumah dan mengembalikan barang-barang yang diambilnya semula.”

Yah, kalau begitu sih, tak usah dikunci juga tak apa-apa. Pencuri saja akan mengembalikan hasil curiannya dari rumah Tuan Haji. Jadi, apatah gunanya dikunci-kunci pula?

***

Sudah lima hari saya di Malaysia dan menginap di rumah itu. Saya sudah waktunya pulang ke Indonesia. Istri dan beberapa teman serta karyawan Tuan Haji Ismail mengajak saya berkeliling Perlis. Ke Gua Kelam, Wang Kelian di perbatasan Malaysia dengan Thailand, Masjid Kangar, dan sebagainya. Karena saya akan pergi seharian dan kebetulan saya membawa tas berisi laptop perusahaan tempat saya bekerja, maka refleks saya memasang kunci kamar dari dalam. Toh tinggal pencet. Dalam batin saya, takutnya kalau laptop mahal itu hilang dicuri orang. Ketika pintu saya tutup dari luar dan kemudian … klik! … terkunci, barulah saya menyadari bahwa saya betul-betul tidak tahu dimana anak kuncinya berada.

Akhirnya saya lalui kunjungan ke beberapa tempat tersebut dengan hati yang tak jenak. Gara-gara suudzon pada rumah Tuan Haji yang tak berkunci, justru saya terlibat kesulitan karena telah mengunci kamar tanpa tahu dimana anak kuncinya berada. Mana tuan rumah juga sedang tidak di tempat. Maka setelah kunjungan selesai, kami berkeliling mencari tukang kunci di Kangar. Untung masih ada satu toko yang buka – setelah orangnya ditelpon ke rumah.

Jadilah kami membongkar kunci kamar Tuan Haji hanya karena kelalaian kecil; hingga karenanya saya harus membayar RM 70 pada tukang kunci necis itu –bawaannya mobil keren. Uang itu setara dengan Rp. 175.000,- hanya untuk kerjaan ketrampilan tangan Mac Giver mengkutak-katik lubang kunci dengan sejengkal kawat.

Mungkin untuk bisa seperti Tuan Haji Ismail yang bisa membiarkan pintu rumahnya tak berkunci, saya harus membuang jauh-jauh prasangka jelek (suudzon) pada orang lain, disamping tentu berbagi “sepiring nasi”.

Wa Allahu a’lam


*Kisah ini dipetik dari http://bahtiarhs.multiply.com/journal/item/20/

atau boleh juga diakses melalui http://www.eramuslim.com/atk/oim/43fd161b.htm

Thursday, May 29, 2008

why do i support HPA?

Assalamualaikum.

Bertemu kembali. Sambungan dari edisi 1 yg diterbitkan pada 26 Mei lalu, saya ingin menambah lagi info tentang barangan halal HPA ini.

Amma ba’du. Buat pengetahuan sahabat semua, HPA telah ditubuhkan pada tahun 1986 (ketika itu dikenali sebagai Perubatan Tradisional Al-Wahida), oleh Tn. Hj. Ismail bin Hj. Ahmad. Beliau dilahirkan dalam keluarga yang arif tentang herba, dan kemudiannya melanjutkan pelajarannya dalam bidang herba di Universiti Pertanian Malaysia.


- AL-KISAH -

Bermula dari sebuah rumah yang kecil, Tn. Hj. Ismail bersama keluarganya telah berjaya mengembangkan herba kajian mereka ke seluruh Malaysia, dan kini telah memasuki pasaran Mesir dan Indonesia. Beliau yang berasal dari keluarga yang kuat pegangan agama telah mengaplikasikan nilai-nilai Islam ke dalam perniagaannya. Kompleks Wahida di Jejawi, Perlis yang ditubuhkan pada tahun 1995 tidak mengambil pinjaman dari mana-mana pihak bank. Begitu juga dengan kilang-kilang HPA yang terletak di Perlis, Changlun Kedah, dan juga di Gandul, Indonesia tidak dibiayai oleh mana-mana bank. Bermakna mereka tidak terlibat dengan riba yang dilarang oleh Allah. Pekerja-pekerja HPA juga hanya bekerja dalam keadaan berwudhuk.

HPA bermula dengan cara single-level marketing, tetapi telah menceburi sistem multi-level pada tahun 1997. Pada tahun 1997 itu juga, HPA telah mendapat status GMP (Good Manufacturing Product) oleh Kementerian Kesihatan Malaysia, yang mana satu-satunya syarikat Islam mendapat GMP yang masih kekal hingga ke hari ini.


- MLM? -

Saya sebenarnya seorang yang tidak sukakan multi-level marketing. Saya bukanlah menjadi pelanggan atau menyokong HPA ni kerana sistem multi-levelnya. Perkara yang telah saya sebutkan di atas dan yang di dalam artikel pertama saya

itulah yang membuatkan saya amat tertarik kepada HPA. Bagaimana cara mereka berniaga, mentaati dan berharap kepada Allah itulah yang menambat hati saya. Pada saya, HPA memperkenalkan sistem multi-level adalah untuk membuatkan kita sebagai umat Islam ini terus kekal berada di dalam perjuangan HPA yang juga merupakan satu perniagaan. Pernah juga beberapa kali saya terfikir, mengapa HPA tidak menjual terus produk mereka ke pasaraya-pasaraya seluruh Malaysia seperti yang dilakukan oleh syarikat lain.

Akhirnya saya faham apakah hikmahnya. Jika HPA memasarkan produk mereka secara langsung, iaitu single-level marketing, siapakah yang akan mendapat keuntungannya? Sudah pasti pasaraya gergasi seperti Giant, Carrefour, Tesco dan lain-lain yang akan mendapat keuntungannya. Mereka adalah badan-badan atau syarikat yang dipunyai oleh orang kafir. Alangkah sayangnya jika orang kafir juga yang mendapat keuntungan dari produk Islam. Dari sinilah saya dapat lihat antara usaha yang dilakukan oleh syarikat HPA untuk meningkatkan ekonomi umat Islam. HPA telah mengiklankan produk gergasi mereka, iaitu Kopi Radix di kaca tv. Saya yakin hampir semua dari kita telah maklum akan iklan Radix di TV3 dan TV9 itu yang menelan belanja kira-kira RM1.3juta. Akan tetapi produk itu tidak didapati di pasaraya-pasaraya utama di negara kita. Jadi apakah fungsi kita sebagai umat Islam di Negara ini? Kitalah yang seharusnya menjadi pengguna, pengedar, penjual dan pembeli produk ini. Iklan Kopi Radix telah berleluasa di kaca tv, dan sekarang mereka mula mempromosikan Kola dan Sarsi Radix pula. Bukankah itu satu peluang untuk kita memasarkan produk-produk HPA tersebut? Sudah pasti kita tidak ingin melihat umat Islam di seluruh dunia ini berterusan bergantung kepada produk kafir.

Syarikat HPA sangat menitikberatkan sumber-sumber yang diperolehi untuk menghasilkan produk-produknya. Pegaga yang menjadi antara herba yang paling banyak digunakan ditanam sendiri. Begitu juga dengan roselle, yang mana mempunyai kandungan Vitamin-C yang lebih tinggi dari blackcurrant, diusahakan sendiri. Mereka juga mempunyai kolam ternakan spirulina sendiri. Kopi yang berkualiti diimport dari negara jiran, iaitu Indonesia, juga dari pengusaha Islam. Selain itu, HPA membekalkan benih atau anak pokok kepada pekebun-pekebun sekitar Perlis dan Kedah untuk ditanam, dan kemudiannya dibeli semula oleh HPA. Itulah satu lagi usaha HPA untuk meningkatkan ekonomi umat Islam yang dapat saya ketengahkan, yang mana tiada atau belum lagi saya temui di dalam syarikat lain. Sebab itulah saya rasa sangat bertanggungjawab untuk menyebarkan maklumat ini kepada rakan-rakan sekalian.

Saya tidak rasa teragak-agak untuk menyertai HPA ini seperti MLM yang lain, kerana perjuangan HPA ialah perjuangan dunia dan akhirat. Di dunia kita sama-sama meningkatkan ekonomi umat Islam, yang mana insyaAllah menjadi saham kita di akhirat nanti. Ke mana duit kita dibelanjakan akan disoal di hari kiamat nanti. Adakah untuk kebaikan atau sebaliknya, dan adakah dihabiskan kepada orang Islam atau sebaliknya. Saya sedari, banyak wang yang telah saya belanjakan yang mana ianya untuk bersuka-suka dan juga mengalir ke tangan orang kafir. Banyak duit kita habiskan untuk hiburan, game, komik dan lain-lain, dan tidak kurang juga duit kita habiskan untuk membeli barangan atau pakaian mewah yang menjadi trend masa kini. Jadi, inilah peluang dan masanya untuk kita melabur saham akhirat kita.


- MLM SYARI'AH-

Kepada sahabat-sahabat sekalian, jika di Malaysia ini terdapat sistem perbankan Islam dan juga perbankan konvensional, di Indonesia lebih dari itu. Mereka mempunyai sistem MLM syari’ah dan juga sistem MLM konvensional, yang mana sistem itu akan menilai adakah keuntungan yang diberikan adil dan adakah sesebuah syarikat itu menekan ahlinya untuk membeli produk yang tidak diperlukan semata-mata untuk mencapai target jualan mereka. HPA adalah satu-satunya syarikat di Malaysia ini yang telah mendapat pengiktirafan MLM syari’ah tersebut.

Antara kelebihan HPA yang telah diiktiraf sebagai MLM syari’ah ialah;

  • Perniagaan HPA adalah jihad ekonomi, iaitu untuk meningkatkan ekonomi umat Islam.
  • Produknya 100% halal, dan sumbernya dari pihak yang diyakini.
  • Produknya adalah untuk kegunaan harian. Tiada produk-produk pelik yang tidak diperlukan.
  • Harga yang relatifnya murah. Cth: Kopi Radix 75sen/sachet, berus gigi rm3, Radix Kola 1.5L rm3.30, ubat gigi Herba rm5, kapsul Spirulina rm24.
  • Bonus yang hebat kepada ahli yang istiqamah.
  • Pengasas, pegawai atasan hinggalah ke pekerja kilang adalah 100% muslim. Bermakna keuntungannya bersih hanya untuk orang Islam.
  • Pembuatan/Kilang di dalam negeri.
  • Mempunyai Dewan Syari’ah.
  • Pelan pemasaran yang adil dan tidak menindas mana-mana pihak.


Sekian dahulu dari saya. Sehingga berjumpa lagi di lain lembaran. Terima Kasih. Wassalam.


siveofroman@yahoo.com

Tuesday, May 27, 2008

HPA, our responsibility

Assalamualaikum sahabat-sahabat sekalian.

Saya di sini rasa terpanggil untuk menyampaikan beberapa perkara kepada sahabat semua. Sebenarnya saya baru mengenali HPA (Herba Penawar Al-Wahida); syarikat yang mengeluarkan kopi Radix, dan saya sangat tertarik dengan perjuangannya, yang mana sangat memperjuangkan Islam.


- MUSLIM -

Pertamanya, perkara yang sangat saya kagumi, syarikatnya 100% digerakkan oleh muslim, dan mengikut saranan Islam. Di mana setiap kali tiba waktu solat, kerja di kilang ditangguhkan sebentar supaya semua pekerja menunaikan tanggungjawab mereka kpd Ar-Razzaq terlebih dahulu, kerana drpdNyalah rezeki sehari-hari kita perolehi. Setiap hari, sebelum kerja dimulakan, mereka menunaikan solat dhuha berjemaah terlebih dahulu, dan mengamalkan Al-Ma’thurat setiap hari. Kita di UIAM ini pun tidak memperolehi peluang seperti mereka; solat jemaah di awal waktu setiap hari.


Then, the next big thing is, selain kopi Radix yang popular di kaca tv itu, HPA juga mengeluarkan barangan keperluan kita seharian, seperti sabun mandi, shampoo, ubat gigi, berus gigi, minyak rambut, sabun basuh baju, sabun cuci pinggan mangkuk dan lain-lain.

Jadi, saya rasa amat bertanggungjawab untuk memperkenalkan syarikat yang diredhai Allah dan syarikat yang mengangkat martabat Islam ini kepada sahabat-sahabat semua. Jika kita lihat barangan yang kita guna seharian selama ini, boleh dikatakan semuanya adalah barangan orang kafir. Daripada aspek makanan, hinggalah kepada barangan berkaitan dgn pelajaran; alat tulis, kerusi, meja, buku-buku, kereta dan motosikal, telefon bimbit, komponen komputer, baju, seluar, wallet, beg, selipar, kasut, cermin mata, sabun basuh baju, dan lain-lain.

Sedarlah wahai kawan-kawan, kita telah pun merdeka selama lebih 50 tahun. Kenapa sampai sekarang kita masih bergantung kepada orang kafir? Dan yang paling sedih, banyak produk seharian kita dari syarikat Yahudi. Kenapa makanan halal untuk muslim seluruh dunia ini majoritinya dikeluarkan oleh orang kafir? Kenapa kita masih minum Milo, Nescafe, Horlicks dll bila kita ada minuman yang lebih baik, berkat dan lebih berkhasiat dari minuman itu?


- Alahai MIHAS...... -

Baru-baru ini, expo MIHAS di Matrade (9-11 Mei), kita dapat lihat, hampir semua barangan yang dipamerkan bukanlah produk orang Islam. Boleh dikatakan hanya HPA satu-satunya syarikat 100% kepunyaan Islam di situ. HPA telah mempamerkan mesin untuk membuat kopi Radix kebanggaan muslim di Malaysia ini di situ. Umumnya orang Islam di Malaysia dalam tidak sedar telah menyerahkan pembuatan makanan halal kepada org kafir, malang sekali.


Bila lagi kita dapat tunjukkan sayang dan pengorbanan kita kepada Islam? Pada saya, mungkin saya belum lagi dapat menjadi pendakwah, atau ustaz yang dapat memberi ilmu yang bermanfaat kepada umat Islam umumnya. Dan setakat ini di sini kita masih aman, dan masih belum perlu berperang seperti saudara-saudara kita di Palestin atau di Afghanistan. Jadi, inilah salah satu usaha kita untuk mendokong Islam, dengan menyokong dan menggunakan barangan Islam dalam hidup sehari-hari.


Cuba kita bayangkan, apabila kita, kawan-kawan, atau ahli keluarga kita meneguk air Milo atau Nescafe, kita sebenarnya sedang minum air buatan musuh kita yakni Yahudi. Jika tidak Yahudi pun kita sedang minum air buatan orang Inggeris, atau org Cina yang bukan Islam. Tidakkah kita terasa itu satu kerugian dan satu kesedihan? Walaupun setakat ini kita sebagai orang Islam masih belum dapat mengeluarkan barang kegunaan harian sendiri, tetapi satu perkara yang paling kita perlu jaga ialah apa yang masuk ke dalam perut kita sehari-hari. Biarlah hari ini kita hanya mampu menyokong dan memakan makanan halal dari syarikat Islam, moga-moga pada masa hadapan berkat makanan halal yang kita dan keluarga kita ambil itu berjaya melahirkan generasi yang memartabatkan Islam dan mampu menghasilkan dan menyaingi produk-produk dan syarikat-syarikat kafir yang lain dalam setiap aspek kehidupan kita.


Satu perkara penting yang patut kita ketahui, bahawa JAKIM telah menswastakan bahagian pengesahan halalnya. Ini merupakan satu bonus besar kepada syarikat-syarikat kafir yang ingin menjatuhkan umat Islam! Pemberian logo halal bukan lagi menjadi tanggungjawab untuk mengesahkan barangan halal di Malaysia, tetapi ia telah menjadi satu sumber pendapatan kepada pihak-pihak tertentu. Di Amerika baru-baru ini, seorang Yahudi di dalam satu majlis berkata, “kita tidak perlu memisahkan Al-Quran daripada umat Islam untuk menghancurkan mereka, tetapi kita hanya perlu menyuntik(melalaikan) mereka melalui makanan, muzik, hiburan dan sukan”. Jadi janganlah kita mengambil langkah mudah dengan hanya melihat logo halal pada satu-satu makanan tanpa mengambil peduli siapakah pengeluar dan dari manakah sumber makanan itu didapati.


- PERUBATAN YANG DIYAKINI -

Bagaimanapun, penubuhan HPA asalnya ialah membekalkan herba penawar kepada umat Islam sejagat. Kita perlu sedari bahawa hampir 90% ubat-ubatan di farmasi dan hospital tidak mempunyai logo halal. Ini kerana kerajaan

Malaysia tidak pernah membuat sistem seperti makanan harian kita terhadap ubat-ubatan, sama ada halal atau tidak. Jadi tidak mustahil banyak syarikat akan mengeluarkan produk yang menggunakan sumber yang tidak halal. Rata-rata antara kita tidak pernah ambil peduli tentang halal haram satu-satu ubat itu. Malang sekali jika kita mengidap suatu penyakit dan kita menggunakan ubat yang tidak halal. Bagaimanakah Allah hendak menerima doa kita dan seterusnya menyembuhkan kita? Inilah yang diperjuangkan oleh HPA, di mana mereka menanam, atau mencari sendiri bahan-bahan yang digunakan dalam ubat-ubat mereka, dan memastikan sumber itu halal. Tiada orang tengah kecuali diyakini betul-betul status halalnya herba atau bahan itu. Sekian.

Ladang Pegaga HPA



siveofroman@yahoo.com